Islam

Amalan Harian

Sudah beberapa bulan yang lalu saya join WAG Rezeki Healing, biasanya saya scroll-scroll saja sehingga banyak materi yang terlewati.

Tapi pada suatu hari, saya membaca satu persatu ternyata semua materi bermanfaat. Hingga ada salah 1 materi yang saya ikuti (walaupun belum sempurna semuanya dijalankan) namun saya merasakan ketenangan dan kenyamanan dalam hidup ini. Berharap juga agar selalu diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT.

13 Amalan Harian yang sangat bermanfaat membawa pada kebaikan keberkahan dan dilancarkan rezekinya serta kemiskinan tak akan pernah mau mendekat kepada kita:

  1. Menjaga shalat tepat pada waktunya
  2. Membaca Surah Al-Waqi’ah Sesudah Shubuh atau Sesudah Ashar (Boleh pilih)
  3. Bersedekah di awal Hari (Pagi Hari)
  4. Shalat Dhuha di pagi Hari
  5. Shalat Sunnah Rawatib di tiap waktunya
  6. Jaga setiap Hari Baca Surah Yassin dan Surah Ar-Rahman (Bebas Waktunya kapan saja,Yang penting 1 Hari 1x)
  7. Shalat Qiyamul Lail (Paksakan nanti akan terbiasa dengan sendirinya)
  8. Ikhtiar yang diNiatkan ibadah
  9. Tidak Menyakiti orang lain
  10. Memaafkan mereka yang menyakiti kita sebelum tidur (kalau Bisa Baca Surah Al-Mulk )
  11. Shalat Taubat sebelum Tidur (Terlelap)
  12. Tilawah (Baca Al-Qur’an)
  13. Memperbanyak Istighfar ataupun Dzikir lainnya mengundang Rahmat Allah kepada Kita.

Terima kasih kepada Pak Anaz Almansoer atas ilmunya 🙂

Family, Health, Parenthood

2020

Happy new year!

Waahhh gak berasa banget udah masuk 2020 aja. Tahun ini saya menginjak 31 tahun, usia yang sudah dewasa matang. Banyak yang sudah dilalui tapi juga banyak yang belum saya hadapi.

Menilik ke belakang, 2019 menjadi tahun yang bermakna. Saya telah menjadi seorang Ibu, juga kembali bekerja praktek dokter, saya juga mulai menitipkan anak di daycare. Berat rasanya, tapi hanya itu yang bisa saya & suami lakukan. Bukan berarti saya tidak sayang, tapi justru semua untuk Kami sekeluarga.

2019 juga saya berusaha menjadi pribadi yang sabar namun ternyata sulit sekali. Saya tidak menyalahkan hormon menyusui, tapi memang rasanya tubuh ini kelelahan. Saya yakin proses mengASIhi ini sebagai investasi di dunia d di akhirat.

Tidak mudah menjadi Ibu, bekerja, tidak ada pembantu/ART pun. Namun, menggunakan jasa daycare sangat membantu Kami.

Di 2019 juga saya semakin giat mengembangkan online shop, semua tentu berkat dukungan suami telah mengizinkan saya melakukan hobby ibu. Dan saya telah membuat buku 3 Antologi bersama teman2 lainnya. Next akan bahas satu persatu.

Di tahun 2019 juga saya mengetahui bahwa saya memiliki sinusitis. Pilek lama yang tak kunjung reda hingga 1 bulan. Beruntung obat yang diberikan dr THT aman untuk anak karena saya masih fase menyusui.

Saya juga merasakan patah hati ketika anak tersayang mengalami muntah dan diare kemudian dirawat di RSKIA Harapan Bunda, tempat dimana saya melahirkan. Hancur hati ini, merasa tidak berguna menjadi Ibu. Tapi saya yakin Allah selalu memberikan hikmah dari semua cobaan yang bisa saya lalui. Saya juga jadi lebih menghargai kesehatan.

Semoga tahun 2020 kesehatan saya, suami, anak beserta keluarga semua baik-baik saja. Kolesterol turun, bisa rajin olahraga, bisa semakin produktif, mengurangi keluhan, banyak bersyukur dan semoga bisa sekolah lagi dan menggapai cita – cita lain di tahun ini.

Aamiin. 2020 be nice, please 🙂

Continue reading “2020”
Uncategorized

Hampa Tanpa Menulis

Sedari kecil saya sudah terbiasa menulis diary. Rasanya ada yang kurang jika kegiatan ini tidak dilakukan. Buku diary yang saya miliki sedari SD entah sudah berapa banyak jumlahnya, ada yang bergembok hingga benar-benar terbuka dan saya sudah tidak peduli jika ada orang lain yang membacanya.

Menulis sebagai terapi bagi saya. Saat senang maupun sedih saya bagikan melalui tinta di kertas. Saya memiliki keluarga, saya memiliki sahabat tapi entah kenapa menulis dan tentunya berdoa kepada Allah lebih membuat saya tenang.

Menulis juga sebagai bahan introspeksi, betapa tidak, beberapa kali bahkan sering saya terkejut membaca tulisan sendiri yang dibaca ulang dengan mood yang berbeda. Malu. Kaget. Dan bingung. “Lho saya pernah seperti ini ya.”

Beruntung hanya buku diary saya yang tidak bersuara bisa menampung semua keluhan dan isi otak ini, saya tidak tahu jika mereka bisa berbicara mungkin sudah muak dengan tulisan saya selama ini.

Beruntungnya lagi masa kecil saya belum terpapar media sosial seperti sekarang. Mungkin saat saya ingin menulis, saya akan langsung menumpahkan semuanya di status sosial media saya. Padahal saat saya kecil, kepribadian saya masih sangat labil. Setelah menulis pasti akan lega sesaat. Namun kemudian, menyesal atau malu dan berharap semua orang lupa. Terlebih saat ini seringkali seseorang bermasalah hanya karena sebuah postingan. Bahkan bisa ke jalur hukum dan merugikan banyak orang.

Menulis juga sebagai media pengingat termujarab bagi saya. Sadar bahwa diri ini pelupa dan memang pada dasarnya manusia tidak akan bisa mengingat A-Z proses penting kehidupannya, namun dengan menulis saya bisa merasakan terjun kembali ke masa itu. Saya bisa melaluinya secara detail walaupun hanya membaca lewat tulisan.

Kini, walaupun aplikasi diary online sudah banyak sekali tersedia di perangkat selular, namun saya tetap memilih tulisan tangan untuk kegiatan sehari-hari. Dari mulai to-do-list, belanja ke supermarket, agenda weekly/monthly, journaling. Rasanya sudah menjadi bagian hidup saya.
Jadi, sudahkah kamu menulis hari ini?

—-

#nulisyuk #belajarmenulis #nulisyukbatch37

Health

Anak Disleksia? Jangan Panik dulu Moms

Hi Moms kondisi disleksia akan sulit dikenali pada anak balita apalagi yang masih bayi ya Moms. Namun saat anak sudah sekolah, biasanya akan terlihat. Kondisi ini meliputi:

• Perkembangan bicara lebih lamban dibandingkan anak-anak seusianya
• Sulit mengerti apa yang orang sampaikan
• Sulit menjawab suatu pertanyaan
• Sulit untuk mengingat sesuatu
• Sulit untuk mengeja, membaca, menulis, dan berhitung.
• Sulit untuk menerima suatu pelajaran.

Hingga kini belum diketahui apa penyebab pasti disleksia. Beberapa peneliti menduga adanya kelainan gen yang memengaruhi kinerja otak dalam membaca dan berbahasa.

Namun Moms jangan cepat mengambil keputusan bahwa Anak Moms mengalami Disleksia ketika menemukan ciri di atas. Karena yang berhak mendiagnosis hanyalah yang profesional.

Jika memang ternyata anak Moms disleksia, segera bawa ke Dokter karena penanganan sejak usia dini terbukti efektif meningkatkan kemampuan penderita dalam membaca.

Banyak metode untuk terapi ini, dari mulai diajari mengeja, bekerjasama dengan gurunya di sekolah, membaca dengan suara lantang, membatasi penggunaan gadget, dan tentu diajak berbicara setiap Moms melakukan sesuatu pada Anak Moms.

Jika Moms membutuhkan teman yang senasib juga bisa bergabung dengan Support Group ibu-ibu yang memiliki anak disleksia. Jadi harus tetap semangat ya 🙂

Parenthood

7 Mei 2018

Lahir di usia kehamilan 37 minggu membuat Kama memiliki BB 2.750 dan PB 47.

Siang itu 3 minggu lebih cepat dari HPL, tiba-tiba air ketuban pecah. Bukan merembes. Bukan menetes namun pecah seperti air yang tumpah. Dan saya sedang di rumah sendirian (karena memang hanya berdua dengan suami di rumah). Beruntung suami cepat datang, Kami pun ke bidan komplek terlebih dahulu.

Ketuban terus mengalir sedangkan saat itu masih bukaan 1. Akhirnya Kami ke IGD RS (selama perjalanan Bidan membawa tabung oksigen, dan seperangkat alat melahirkan lainnya. Siapa tauuu tiba-tiba melahirkan di jalan karena Bandung macet banget) nah di IGD, dilakukan serangkaian pemeriksaan ini itu dan ternyata ketuban hampiiir habis disertai hasil NST yg menunjukkan bahwa adanya gawat janin.

Bodohnya saya masih terlalu idealis ingin melahirkan normal. Namun setelah diingatkan oleh suami dan didukung orang tua (yg saat itu masih via tlp) Kami pun menerima penawaran SC dengan mengisi Informed Consent yg telah diajukan dokter spesialis kandungan untuk keselamatan saya dan bayi tentunya.

Saya gak tau apa jadinya kalau tahun lalu masih keukeuh pengen lahiran normal dengan kondisi gawat darurat seperti itu. Karena saat SC, terdengar dokter kandungan menyampaikan bahwa “saat ini air ketuban udah habis”

Proses SC yg relatif singkat, ternyata menyisakan rasa sakit yang lumayan berat karena saya punya banyak alergi obat. Sehingga obat2an yg diberikan paska SC sangat terbatas.

So, saya rasa semua Ibu dan calon Ibu perlu tau bahwa baik melahirkan secara normal atau SC, keduanya butuh perjuangan. Dan jangan egois memaksa normal tapi kondisi gak memungkinkan. Karena saat melahirkan ada 2 nyawa yg terlibat❤